Postingan ini merupakan catatan matakuliah Komunikasi Interpersonal [semester 5], check it out🙂

TEORI KOMUNIKASI DALAM HUBUNGAN INTERPERSONAL

1.        Teori pengungkapan diri (self disclosure)

Pengungkapan diri (self-disclosure) adalah proses menghadirkan diri yang diwujudkan dalam kegiatan membagi perasaan dan informasi dengan orang lain. Menurut Morton (dalam Sears, dkk., 1989) pengungkapan diri merupakan kegiatan membagi perasaan dan informasi yang akrab dengan orang lain. Informasi di dalam pengungkapan diri ini bersifat deskriptif atau evaluatif. Deskriptif artinya individu melukiskan berbagai fakta mengenai diri sendiri yang mungkin belum diketahui oleh pendengar seperti, jenis pekerjaan, alamat dan usia. Sedangkan evaluatif artinya individu mengemukakan pendapat atau perasaan pribadinya seperti tipe orang yang disukai atau hal-hal yang tidak disukai atau dibenci. Fungsi pengungkapan diri : Ekspresi (expression), Penjernihan diri (self-clarification), Keabsahan sosial (sosial validation), Kendali sosial (social control), Perkembangan hubungan (relationship development)

2.        Teori prosemik/jarak

Proksemik adalah yang berhubungan dengan keadaan diri dalam lingkungan. Dalam bidang komunikasi, proksemik meliputi keterkaitan individu dengan lingkungan atau ruang, seperti penggunaan ruangan, pengaturan peralatan dan perlengkapan ruangan (misalnya, penempatan furniture), pengaturan posisi tempat duduk, atau jarak antara komunikator dengan komunikan. Yaitu teori yang membahas mengenai penggunaan jarak dalam menyampaikan pesan. Edward T Hall membagi jarak ke dalam 4 jenis: jarak publik, jarak sosial, jarak personal, dan jarak akrab.

Jarak yang dibuat individu menunjukkan tingkat keakraban yang terjadi di antara mereka. Misalnya, ada suami istri berjalan berdekatan, kita langsung berasumsi kalau mereka adalah pasangan yang harmonis. Namun ketika kita melihat mereka berjalan agak berjauhan, maka kita berasumsi bahwa mereka sedang dalam kondisi yang kurang harmonis.

Jarak juga menentukan persepsi kita mengenai sikap lawan bicara ketika ia membuat jarak saat berkomunikasi. Sebagai contoh, ketika seorang teman mengajak kita berbicara namun dengan jarak agak jauh atau dibatasi oleh sesuatu, maka kita akan menganggap dia adalah pribadi yang tidak terlalu terbuka dan sedikit preventif.

Namun, ketika lawan bicara kita duduk bersebelahan dengan kita, maka kita beranggapan bahwa dia sangat terbuka dan mampu menciptakan suasana yang nyaman saat berbicara. Cara seseorang mengatur ruang juga mempengaruhi persepsi kita mengenai pribadi lawan bicara kita.

3.        Teori firo (fundamental interpersonal relation orientation)

Fundamental Interpersonal Relationship Orientation mengasumsikan bahwa ada tiga kebutuhan penting yang menyebabkan (orientasi) adanya interaksi dalam suatu kelompok. Ketiga aspek itu adalah keikutsertaan (inclusion), pengendali (control) dan kasih sayang (affection). Ini merupakan pendekatan sederhana namun mendalam untuk lebih memahami perilaku manusia yang akan membantu untuk melakukan proses: Memperbaiki hubungan manusia, Menciptakan berperforma tinggi dan bersama tim, Membangun kepercayaan, Meningkatkan kepemimpinan, Membangun hubungan bisnis yang lebih baik.

4.        Teori penipuan antar individu

biasanya teori ini digunakan untuk menjelaskan bagaimana orang menghindari tindakan menyakiti orang lain dengan cara berbohong, atau bisa untuk menjelaskan bagaimana cara orang lain berbohong untuk menyerang orang lain, berpura – pura empati, menghindari masuk kedalam konflik, dan masih banyak lagi kebiasaan seseorang yang ada kaitannya dengan memanipulasi pernyataan mereka dengan kebohongan. Pada dasarnya, ia menganggap kebohongan sebagai suatu proses interaktif antara pengirim dan penerima.Tujuan penipuan adalah untuk mengamankan wajah atau membenarkan tindakan.

5.        Teori interaksi simbolik

Teori ini menekankan pada hubungan antara simbol dan interaksi. Teori Interaksi Simbolik merupakan sebuah kerangka referensi untuk memahami bagaimana manusia, bersama dengan manusia lainnya, menciptakan dunia simbolik dan bagaimana dunia ini, dan bagaimana nantinya simbol tersebut membentuk perilaku manusia. Definisi singkat dari ke tiga ide dasar dari interaksi simbolik, antara lain:

Pikiran (Mind) adalah kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna sosial yang sama, dimana tiap individu harus mengembangkan pikiran mereka melalui interaksi dengan individu lain,

Diri (Self) adalah kemampuan untuk merefleksikan diri tiap individu dari penilaian sudut pandang atau pendapat orang lain, dan teori interaksionisme simbolis adalah salah satu cabang dalam teori sosiologi yang mengemukakan tentang diri sendiri (the-self) dan dunia luarnya, dan

Masyarakat (Society) adalah jejaring hubungan sosial yang diciptakan, dibangun, dan dikonstruksikan oleh tiap individu ditengah masyarakat, dan tiap individu tersebut terlibat dalam perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela, yang pada akhirnya mengantarkan manusia dalam proses pengambilan peran di tengah masyarakatnya.

6.        Teori dialektika relasional

Teori ini menggambarkan hubungan komunikasi sebagai kemajuan dan pergerakannya konstan. Teori ini dapat dipahami dan diterapkan pada konteks organisasi dan juga interpersonal. Orang yang terlibat dalam berhubungan pada dasarnya dalam selalu ada dorongan dan tarikan dari keinginan masing-masing individu yang bertolak belakang.

Asumsi : Hubungan tidak bersifat liniar melainkan fluktuasi yang terjadi antara keinginan yang kontradiktif. Hidup berhubungan ditandai dengan adanya perubahan dengan sejalannya waktu. Kontradiksi merupakan fakta fundamental dalam hidup berhubungan yang tidak pernah behenti untuk menimbulkan ketegangan. Kita dapat mengelola ketegangan dan oposisi dengan cara yang berbeda-beda, tetapi kedua hal ini selalu ada dalam hidup berhubungan. Komunikasi sangatlah penting dalam mengelola, mengorganisasikan dan menegosiasikan kontradiksi – kontradiksi dalam hubungan secara baik.

7.        Teori pelanggaran harapan non verbal

Teori ini bertolak dari keyakinan bahwa kita memiliki harapan­-harapan tertentu tentang bagaimana orang lain sepatutnya berperilaku ketika berinteraksi dengan kita. Kepatutan tindakan tersebut pada prinsipnya diukur berdasarkan norma-norma sosial yang berlaku atau berdasarkan field of experience kita. Terpenuhi atau tidaknya ekspektasi ini akan memengaruhi cara interaksi kita dengan mereka, bagaimana kita menilai mereka, dan bagaimana kelanjutan hubungan kita dengan mereka. Teori ini berasumsi bahwa setiap orang memiliki harapan-harapan tertentu pada perilaku nonverbal orang lain. Jika harapan tersebut dilanggar maka orang akan bereaksi dengan memberikan penilaian positif atau negatif sesuai karakteristik pelaku pelanggaran tersebut.

8.        Teori disnansi kognitif

Teori disonansi kognitif merupakan sebuah teori komunikasi yang membahas mengenai perasaan ketidaknyamanan seseorang yang diakibatkan oleh sikap, pemikirankan, dan perilaku yang tidak konsisten dan memotivasi seseorang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan tersebut. Manusia memiliki hasrat akan adanya konsistensi pada keyakinan, sikap, dan perilakunya.. Penjelasan: menekankan sebuah model mengenai sifat dasar dari manusia yang mementingkan adalnya stabilitas dan konsistensi. Teori ini menyatakan bahwa orang tidak akan menikmati inkonsistensi dalam pikiran dan keyakinan mereka. Sebaliknya, mereka akan mencari konsistensi. Disonansi adalah perasaan tidak suka yang mendorong orang untuk melakukan tindakan-tindakan dengan dampak yang dapat diukur.

LISTENING

Mendengarkan adalah proses aktif dalam : menerima, memahami, mengingat, mengevaluasi, dan merespon komunikasi. Mendengarrkan memungkan anda untuk belajar, mendapatkan informasi, membantu dalam mempelancar sebuah hubungan, mempengaruhi atau memberian efek terhadap perilaku dan tingkah laku orang lain, bermain, menikmati kehidupan anda, menolong orang lain. Gaya mendengarkan yang efektif : empati (ikut merasakan apa yg sedang dirasakan oleh orang yg sedang anda dengarkan), tidak menghakimi, mendengarkan secara mendalam, aktif mendengarkan yakni memberikan feedback yg dibutuhkan. Proses mendengarkan juga dipengaruhi oleh latar belakang budaya. Cara mendengarkan yg dimiliki oleh wanita dan pria sangat berbeda. Teknik mendengarkan yg baik : mengulangi, memahami perasaan pembicara, memberikan pertanyaan agar terjadi feedback, memberikan feedback yg efektif. Untuk mendapatkan feedback maka kita harus bersikap : peka, memberikan dukungan, keterbukaan pikiran, dan kespesifikan.

KONFLIK DALAM HUBUNGAN INTERPERSONAL

1Prinsip – Prinsip dalam Konflik Interpersonal :Pentingnya dari pengaruh konflik dalam setiap hubungan interpersonal bisa menjadi hal terbaik jika kita mampu memahami prinsip dasar dari bentuk khususnya yakni interaksi.

a.Konflik itu tak terelakan / tidak dapat dipungkiri

b.Konflik dapat memiliki dampak yang positif dan negative

c.Konflik berfokus pada konten dan/atau isu-isu hubungan : Konten dari konflik berpusat pada objek, kejadian dan individu yang biasanya diluar dari orang orang yang terlibat konflik

d.Gaya konflik memiliki konsekuensi : Tipe kompetisi : aku menang, kamu kalah. Tipe menghindari : aku kalah, kamu kalah. Tipe menampung : aku kalah, kamu menang. Tipe koloborasi : aku menang, kamu menang. Tipe kompromi : aku menang dan kalah, kamu menang dan kalah.

e.Konflik dipengaruhi oleh budaya : Norma budaya yang dimiliki kelompok akan mempengaruhi tipe-tipe konflik yang sedang terjadi dan mencari jalan keluar untuk menyelesaikan konflik tersebut.

 

Tahapan Manajemen Konflik : Menetapkan konflik. Memeriksa kemungkinan solusi. Uji solusi. Evaluasi solusi. Menerima dan menolak solusi

Setelah terjadinya konflik, kita belajar sesuatu dari konflik tersebut, menjaga konflik dalam perspektif/pandangan, melawan perasaan negative anda, dan meningkatkan pertukaran manfaat yang ada.

 

Strategi Manajemen Konflik : Strategi win-lose atau win-win. Strategi menghindari dan aktif berjuang/berusaha. Strategi paksaan dan bicara. Strategi mengurangi dan menambahkan. Strategi keagresifan verbal dan argumentasi

KEKUASAAN/KEKUATAN DALAM HUBUNGAN INTERPERSONAL

Prinsip – Prinsip Kekuasaan/Kekuatan : Kekuasaan/Kekuatan dipengaruhi oleh apa yang kamu lakukan, dimana kamu melakukan, dan dengan siapa kamu melakukan. Hal tersebut mempengaruhi pilihanmu akan sahabat, kisah cita maupun hubungan keluarga., dan bagaimana kamu nyaman menjalani hubungan tersebut. Kekuasaan/Kekuatan interpersonal adalah apa yang memungkinkan seseorang mengontrol kebiasan orang lain.

a. Beberapa orang lebih berkuasa/kuat dari pada yang lainnya

b. Kekuasaan/Kekuatan dapat ditingkatkan atau diturunkan

c. Kekuasaan/Kekuatan mengikuti prinsip kurang ketertarikan

d. Kekuasaan/Kekuatan memiliki dimensi budaya

e. Kekuasaan/Kekuatan sering digunaan secara tidak adil

Tipe – Tipe Kekuasaan/Kekuatan

a. Sumber kekuatan

b. Kekuasaan/Kekuatan yang sah

c. Keahlian

d. Kekuasaan/Kekuatan informasi dan persuasi

e. Kekuasaan/Kekuatan penghargaan dan paksaan

Kemampuan Berkomunikasi : Anda mampu mengkomunikasikan kekuasaan/kekuatan seperti anda mengkomunikasikan pesan lainnya. Disini kita mempertimbangkan bagaimana anda mengkomunikasikan kemampuan tesrebut melalui bicara/lisan, nonverbal, maupun pendengaran.

a. Kemampuan berbicara

b. Kekuatan nonverbal

c. Kekuatan mendengarkan

d. Mendapatkan kepatuhan dan dan penolakan

e. Memberdayakan orang lain