Tag

,

Matahari tersenyum cerah. Langit pun mendulang mendung terarah. Bayu berdendang semilir sepoi. Dedaunan mengangguk mengiyakan dunia. Kala anak manusia berlari dan tertawa. Menyambut masa remaja yang begitu indah.

 

Ku sambut hari dengan berseri, seiring mentari yang terus menyinari, selaras hati yang bernyanyi, serinai kasih yang mekar di hati, bersama sahabat yang selalu dekat, jalin erat terikat erat.

 

Persahabatan yang dilandasi kesucian, mengantarkanmu menjadi seorang diantara meeka. Meski engkau ini batu atau pualam, kau akan menjelma menjadi permata.

 

Hidup adalah mencari arti akan jati diri. Bilakah ia tak selaras dengan mimpi, maka biarlah aku bediri, bukan berhenti, karena hidup sendiri tak kenal kompromi.

 

Hidup ibarat kaca, kadang begitu rapuh, dan kadang begitu angkuh. Bilapun ia pecah berserakan, itu bukanlah akhir dari keindahan. Karena masih ada harapan dalam perjalanan panjang kehidupan. Akan ada yang menyusunnya kembali utuh.

 

Matahari sesungguhnya selalu hadir dan ada. Dan setiap orang terhangati olehnya. Meskipun begitu, karena matahari tidak selamanya terlihat, manusia tidak mengetahui bahwa kehangatan dan kehidupan berasal darinya.

 

Pijar itu membalurkan hangat di ronggaku. Menggeliat pelan mengalir membasuh kebekuan dalam lorong sunyi bilik jantungku. Dan kala ku coba untuk meraih pijar itu, jari dan tanganku gosong dan meleleh. Urung  segala asa yang tertanam, gagal untuk kuraih lewat isyarat sebuah pijar.

 

Senyum itu indah. Seindah pelangi di mata mu. Tawa itu bernada, seirama alunan lagumu. Hati itu ceria. Secerah hari yang setia menanti malam.

 

Cinta adalah rasa di jiwa. Bilakah ia akan bermakna dalam alunan sikap yang mengalah untuk menyimpan hasrat meski tak parah. Menunggu seribu tahun pun rasa itu akan tetap ada untukmu.

 

Memilih diantara dua adalah dilemma. Tapi bila satu telah melangkah pergi, maka ringan bebanku untuk kembali merajut kisah dan cerita bersamu lagi.

 

Tiada kata seindah kasih di hamparan Tuhan. Tiada kata seagung makna di samudra cinta Tuhan.

 

Kebisuan yang terjelma menumbangkan asa dan cinta dalam gairah dan prasangka. Seakan hadir tak bermakna. Mengerti pun aku diam dalam galau kesendirianku.

 

Bersua dan berpisah apalah bedanya. Berpisah pun untuk bersua pula. Ku bawa janji hati ini kasih. Untuk dibingkis padamu lagi. Tak akan lama aku pergi karena aku pasti kembali. Hanya tak sabar menanti bilakah cerita akan terulang lagi.

 

Semburat jingga meronai senja. Di dalam kekelaman sang waktu. Seakan hadir memberi nuansa lain dalam tirai melingkupinya. Yang menyibakkan siluet hati kala diri terpaku sendiri dalam renkulan Ilahi.

 

Biarlah ia menjadi awan yang kemudian menjadi mendung sebagai bekal hujan. Dan biarlah aku menjadi manusia yang meniti bait-bait keinsafanku. Dalam sajadah panjang bernama kehidupan biarlah apa menjadi adanya, dalam simfoni indah sunatullah untuk sekedar mengecup arti kesejatian hakiki. Itulah sebaik baiknya bekal.

 

Jika cinta begitu menawan, maka tawanlah aku dengan cinta Tuhan agar tak ada lagi yang dapat menawanku di ruang hatiku selain Tuhanku.

 

Ku ingin menjadi bagian dari hatimu. Tak peduli apa jua yang harus kupertaruhkan. Tapi semakin kugapai dan ingin ku genggam, bayangmu semakin menghilang. Menyisakan hampa di hati. Kala diri kalut dalam biru terjelma dalam asa yang hampir patah.

 

Bayangmu hadir di sela-sela bayang yang lain. Aku tergeragap dalam ilusiku. Menanti waktu yang mencumbu. Lelah hati ini, tak kuasa untuk pahami rasa yang semakin meradang, terkenang engkau yang semakin menghilang…

 

Kapankah kau mengerti apa yang ada di hati. Walau tak sempat terungkap tatapan itu butuh jawaban. Biarlah ia terbang menguap meski rasa ini akan semakin pekat. Pergilah. Akan aku kubur sebelum ia berkarat.

 

Kepedihan hati aku tanggalkan antara anak berduri. Di kebimbangan yang menuaikan asa dalam penantian. Seribu paranoia membisikkan kepercayaan abadi. Walau tertanggal hidup pun tak akan peduli. Rindupun kembali hadir bawa seribu nuansa dalam melodi. Menunggu jembatan kasih terkuak iris kenangan. Meraup bahagia di sela rinai tangis dan tawa,

 

Sejatinya cinta, baik dari langit maupun dari bumi, semuanya menunjuk kepada Tuhan semata.

 

Telah luruh diri ini. Berkubang air mustakmal yang berserak. Ku sibak alunan kaki seiring tapak tapak yang tak pernah berhenti. Ku sungkurkan jasad ini di kubah Tuhan. Menetes seiring irama al-Ashr. Tetap tersungkur. Aku merintih, terisak dalam gaung Tuhan. Tuhanku, luruh jugakah dosaku?

 

Tuhan, ijinkan aku untuk mengetuk pintu-Mu, demi memahami arti lara dan lapang kehidupan. Sebagai bekal untuk mendewasakan diri dan hati dalam naungan iman.